Headline
print this page
Berita Terbaru
lazada indonesia

Indeks Berita

Trase Jalur Tol Akan Berubah?


Suarajatinangor -  Trase Tol Cileunyi Sumedang Dawuan (Cisumdawu) di Seksi II diwacanakan akan berubah dari rencana semula. Wacana perubahan tersebut muncul setelah tim dari Satuan Kerja (Satker) Tol  Cisumdawu  mengkaji lokasi tertentu yang sedianya akan dilewati jalan bebas hambatan tersebut yang ternyata dikhawatirkan menimbulkan masalah.  Akan tetapi, wacana tersebut belum menjadi sebuah kepastian alias belum final.  Demikian informasi diterima “SJ”.


Saat hal itu dikonfirmasi kepada Kepala Satker Tol Cisumdawu  Subagus Dwi Nurjaya, yang bersangkutan membenarkan soal adanya wacana tersebut. ‘Ya begitulah yang terjadi.  Kami terpaksa melakukannya setelah melakukan berbagai kajian dan pertimbangan matang,” ujar dia.
Subagus mengatakan, wacana perubahan trase Tol Cileunyi Sumedang Dawuan (Cisumdawu)  tersebut bertujuan agar pembangunan jalan bebas hambatan berjalan dengan baik.  Pasalnya, sudah menjadi kewajiban satuan kerja (Satker) Tol Cisumdawu untuk mengevaluasi pembangunannya , dengan maksud agar aman. Aman tersebut mencakup kontruksinya, strukturnya serta pemanfaatannya.
Dia menjelaskan, hasil evaluasi Satker Tol Cisumdawu  dan beberapa tim ahli termasuk Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG),  sekira 2 KM jalur Tol di wilayah Desa Girimukti rawan longsor. Jika tetap dilakukan pembangunan,  maka akan sangat membahayakan, baik kepada para pekerja maupun kepada pengguna jalanna nanti.  Atas dasar itulah, pihaknya kemudian memikirkan untuk mengubah trase tersebut. "Wacana pergeseran trase tersebut kami anggap keterpaksaan setelah melalui tahapan evaluasi," ujar Subagus.
Dikatakan, perubahan  trase tersebut akan menuai dampak dan resiko. Di antaranya, pertama dipastikan  munculnya 'kegalauan'  masyarakat mengingat sudah banyak 'kredit apabila'. Maksud 'kredit apabila' itu, adalah masyarakat yang mengandalkan pembayaran pelepasan hak (PH) untuk menutupi biaya hidup sehari-harinya. Dampak kedua, kata dia, berupa resiko hukum jika harus dirubah trase-nya namun pembayaran PH tetap dilanjutkan. "Kondisi itu tentu saja akan berat khususnya bagi panitia pengadaan tanah (P2T)," ucapnya.
Resiko ke tiga, ujar dia menambahkan, terkait penyelesaian dampak sosialnya di masyarakat. Ia mengaku sulit terealisasi seperti aman kontruksi, struktur dan aman pemanfaatannya jika memang terpaksa pembangunan dilanjutkan atau tak dilakukan pergeseran trase. "Kami sudah kordinasi dengan pihak terkait dalam  mencari solusi aman ketiga item tadi," katanya.
Dia mengatakan, lahan di trase awal, sebagian sudah ada yang dibebaskan dann sebagian lagi baru akan dibebaskan. "Jika trease bergeser, sudah pasti yang telah dibebaskan akan mubajir untuk penggunaan tol, terkecuali ada terobosan baru," katanya.
Jika perubahan trase khusus di lahan sekira 2 KM itu dilakukan, maka perlu dicarikan lahan baru yang sesuai dan solusinya harus nambah lahan sekira 3 KM menjadi 5 KM. Kendati trase diubah, dia meyakinkan, biayanya lebih murah.  "Jujur saja, jika trase bergeser maka struktr dan konstruksinya akan lebih murah," ucapnya.

Dalam menghadapi persoalan wacana pergeseran trase itu, Subagus menghimbau agar semua pihak terkait tak mengkolaburasikan histori dengan masalah yang akan dihadapi kedepannya. "Pokoknya, penyelesaian persoalan trase lama tetap tak dilupakan dan solusinya tepat," ucapnya.  (SJ)
0 comments

AMIK Al Masoem Wisuda 121 Mahasiswa



Suara Jatinangor - Sebanyak  121 mahasiswa akademi manajemen ilmu komunikasi (AMIK) AL Masoem melaksanakan wisuda yang digelar di Dom AL Masoem, Jalan Raya Cipacing 22 Jatinangor - Sumedang, Sabtu (6/9/2014).


Direktur Akademis AMIK AL MA'SOEM Asep Sujana, Drs, M.M mengatakan, peserta wisuda telah  menyelesaikan program akademik.

"Mereka telah menyelesaikan program akademik. Khusus bagi program Diploma Tiga (D3), telah lulus sidang tugas akhir. Smentara itu,  bagi Diploma Satu (D1) telah menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan (PKL)" ujarnya.

Jumlah wisudawan tahun ini, lanjut Asep, ada 121 orang yang terdiri dari 93 wisudawan D3 dan sebnayak 28 wisudawan D1.

"Seluruh peserta wisuda, pengelola telah menetapkan 4 wisudawan yang memperoleh penghargaan karena mendapatkan IPK tertinggi," ucapnya.

Sebnayak 4 wisudawan yang meraih penghargaan diantaranya, Neng Sri Latifah Zulfa dengan IPK 3,71, Heru Hendrawan IPK 3,70, Yulia Febrian perolehan IPK 3,86 dan Endah Permata Sari dengan 3,79. (SJ2).
0 comments

Taman Melati Jatinangor, Bidik Mahasiswa.

Suarajatingor- Dalam beberapa tahun terakhir, secara demografis terjadi pergeseran gaya hidup, khususnya untuk masalah hunian. 

Di lingkungan mahasiswa, keluarga muda dan apartemen kini tak lagi sebagai alternatif hunian.



Lebih dari itu, tinggal di apartemen kini sudah menjadi gaya hidup. Gaya hidup yang menjadi pendorong memiliki hunian nyaman, aman serta memiliki nilai tambah, disamping sebagai sarana investasi menguntungkan untuk masa depan.

Dikatakan, Project Manager Properti Taman Melati Jatinangor pada acara Press Visit di lokasi proyek, Kamis (6/8/2014).

"Penjualan apartemen, dalam beberapa tahun terakhir khusus mahasiswa, menunjukkan tren yang meningkat," katanya.

Untuk menangkap peluang tersebut dan dalam rangka memperluas portofolio segmen pasar mahasiswa, PT Adhi Persada Properti yang fokus menggarap bisnis properti (highrise building), mengembangkan apartemen kelas menengah di kawasan-kawasan pendidikan di Indonesia.

Salah satunya di kawasan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Pihak Adhi Persada menilai, dalam sepuluh tahun terakhir kawasan Jatinangor akan menjadi sebuah kota pusat pendidikan. Beberapa kampus yang ada saat ini yakni Unpad, ITB, IPDN dan Ikopin.

Sebagai anak perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang merupakan pengembang apartemen Taman Melati, fokus sebagai spesialis pengembang di lokasi yang sangat dekat dengan kampus.

"Segmennya memang mahasiswa, jadi mereka yang membutuhkan hidup nyaman dan jelas. Hunian yang dekat dengan kawasan pendidikan ini diharapkan bisa menjadi pilihan menarik bagi mahasiswa, orang tua mahasiswa, investor dan target market lainnya," ujarnya.

Apartemen Taman Melati yang berlokasi di Dusun Neglasari Desa Hegarmanah, Kec. Jatinangor itu memiliki luas area kurang lebih 4.645 meter persegi, dengan produk satu tower apartemen yang terdiri dari 16 lantai.

"Untuk total unit ada 758 dengan mayoritas 90 persen type studio. Dari total unit yang ada, nilai properti yang ditawarkan mencapai Rp 210 Miliar. Dan sekarang progres penjualan sudah 70 persen dari total unit. Dan rencananya Topping Off (penutupan atap terakhir) pada September 2014," ujarnya.

Sementara itu, Corporate Secretary, Syahrial Firdausi mengatakan, apartemen Taman Melatih terbilang memiliki keunggulan lebih dibandingkan beberapa apartemen lainnya yang ada di kawasan Jatinangor.

"Keunggulannya pada pemandangan, karena kami punya apartemen di bukit. Desain gedung selain minimalis, bukaan cahaya kami memaksimalkan, sirkulasi udara sangat baik. Setiap jendela dibuat supaya bisa dibuka," kata Syahrial.

Didampingi manager penjualan apartemen taman melati Jatinangor, Rezky Pirnadini, Syahrial mengatakan, salah satu pemandangan yang bisa dinikmati dari Taman Melati, yakni Jembatan Cincin, persawahan, serta gunung. Untuk fasilitas lain yang dimiliki, ada kolam renang, cafe, comersial area (minimarket, laundry, salon) yang menjadi pelengkap penghuni.

Ia menuturkan, sejak 2012 lalu, PT Adhi Persada Properti sudah memiliki beberapa apartemen yang juga lokasinya sangat dekat dengan kampus, seperti di Depok, Jakarta, dan Yogyakarta.

"Untuk siasat air, aspek teknis melalui tahap perizinan. Kalau harus mengadakan penampungan, sudah direncanakan dan Amdalnya sudah dipersiapkan. Prioritas utama perizinan lengkap. Tanah kami resmi Hak Guna Bangunan (HGB) milik Adhi Persada Properti, bukan tanah sengketa," ucapnya.

Untuk harga yang dipasarkan sendiri sangat terjangkau, khususnya bagi mahasiswa. 

"Kami yakin punya pasar sendiri. Tetap bersaing, yang penting punya kelebihan-kelebihan seperti lokasi yang nyaman. Akses dari Tol Cileunyi pun hanya 10 menit," ujarnya. (Forkowas)
0 comments

Lingkung Seni Unwim Sarat Prestasi

Suarajatinangor, Tanjungsari - Lingkung Seni Sunda Universitas Winaya Mukti (Unwim), berprestasi di berbagai lomba kesenian dan kebudayaan. Prestasi tersebut merupakan wujud besarnya peran Unwin dalam melestarikan kesenian dan kebudayaan di Jawa Barat.

"Kiprah mereka, tentu saja aset bagi Pemkab Sumedang dan Pemprov Jabar. Eksistensinya, patut dibanggakan," kata  Rektor Unwim, Asep Hilman kepada wartawan, baru-baru ini di Kampus Unwim Tanjungsari.
Asep menjelaskan, kepiawaian anggota Lingkung Seni Unwim, tak hanya di pentas taraf lokal saja. Mereka pun,  telah melanglang buana hingga beberapa daerah di Jabar.

"Bukti mereka berpotensi, seabreg penghargaan telah diraih dari beberapa perlombaan," ucapnya.

Sejumlah pegiat seni khususnya mahasiswa Unwim tersebut mengaku senang bisa mendulang ilmu sekaligus berkiprah dalam kesenian.

"Untuk warga Sumedang dan sekitarnya yang mau memberikan kesempatan kepada kami untuk menunjukan kepiawaian dalam pentas seni sunda, bisa datang ke Kampus Unwim di Dusun Bojongseungit Kec. Tanjungsari," ujarnya. (SJ-2)
0 comments

Nincak Tapak Pejoang di Rancaekek

Paramitra Rusady jeung Ully Sigar Rusady
Suarajatinangor - Poe Saptu jeung Ahad (30-31/8) aya raramean di SDN I Rancaekek, Kabupaten Bandung.  Boh dina poe Saptu boh Ahadna, katembong rea nonoman jeung veteran kumplit jeung saragemna.
Di antara ratusan jalma nu nyampak di eta sakola, katembong aya dua Srikandi nu geus teu bireuk deui keur urang, nyaeta Ully Hary Rusady (baheula mah kasohorna Ully Sigar Rusady) jeung artis jeung penyanyi Paramitha Rusady. Duana katembong cakah-cikih, angot Ully Hary Rusady mah.

Aya naon? Horeng, harita teh keur aya acara Napak Tilas Route Pejuang 1945 di Bandung Timur. Pangna Bunda Ully (kitu ayeuna biasa disebut) aya di eta acara, lantaran anjeunna pisan nu boga alpukah ngayakeun eta acara. Ari prak-prakanana mah, Bunda Ully nu oge pupuhu Yayasan Gabungan Rumpun Pemuda Nusantara teh, dirojong ku pihak sejenna kayaning Emergency Respond Unit Merah Putih, Gabungan Komunitas Pecinta Alam, Legiun Veteran Republik Indonesia Kota Bandung, katut Puskoveri Jawa Barat.
Napak tilas, startna ti BSI, finishna di Dangdeur, Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Malem mingguna mah, Bunda Ully katut ramana ngaluuhan saresehan jeung temu pejuang,jeung aya acara papasrahan buku perjoangan yasana rama Bunda Ully, RJ Rusady Wirahaditenaya nu judulna "Tiada Berita dari Bandung Timur".
Ka "SJ" Bunda Ully netelakeun, ramana tea sawatara waktu katukang reres nyusun buku perjuangan "Tiada Berita dari Bandung Timur", nu eusina perjoangan ramana tur pejuang lianna sasama anggota Batalyon 33 Pelopor, Resimen Sukapura, Divisi III/Siliwangi,  dina mertanhankeun wewengkon Bandung Timur ti Walanda.
Saestuna, pokna, perjoangan Batalyon 33 Pelopor Resimen Sukapura teh beurat naker. Batalyon ngalaman perang campuh jeung Walanda nepi ka rea nu palastra dina mancen tugas mertahankeun "Front Bandung Timur" teh.  "Ngan hanjakalna, perjoangan anggota Batalyon di Bandung Timur nepi ka kiwari taya nu ngungkab. Nu diungkab ukur perjoangan tentara di Bandung Utara, Bandung Barat jeung Bandung Selatan wungkul," pokna, semu nu handeueul.
Sanggeus dipikir dibulak-balik, dirina ahirna hayang  ngawanohkeun perjoangan Batalyon di Bandung Timur ka nonoman. Carana, sajaba ti ngabagi-bagikeun buku perjoangan nu disusun ramana, nya ku cara ngayakeun napak tilas tea. Napak tilasna, nyaeta ti Lapangan Universitas BSI Jl. Sulaksana Kota Bandung nepi ka Rancaekek, nincak jalan nu kungsi disorang ku para pejuang nalika meunang pancen mertahankeun wewengkon Front Bandung Timur.
"Mudah-mudahan wae ieu acara nu kailmahan ku buku papih (RJ Rusady Wirahaditenaya), aya mangpaatna," pokna.
Nurutkeun catetan sajarah, ayana Front Bandung Timur teh sabada aya kajadian nu katelah Bandung Lautan Api, 23 Maret 1946. Alatan sieun Dayeuh Bandung jadi markas militer NiCA Walanda dina Perang Kemerdekaan Indonesia, imah jeung wangunan di Bandung didarurukan. Warga Bandung saterus naringgalkeun Bandung, ka pilemburan jeung pagunungan.
Nya mangsa harita, aya nu disebut Batalyon 33 Pelopor, Resimen Sukapura, Divisi III/Siliwangi nu meunang pancen geusan mertahank
eun Front Bandung Timur. Ieu anggota Sektor Bandung Timur teh bajuang ti satutasna Proklamasi Kemerdekaan nepi ka Aksi Militer 1 atawa Eerste Politionele Actie. (SJ-1)***

0 comments

Perajin Tembakau Tersedak Cukai Rokok


Suarajatinangor - Sejumlah perajin tembakau di kawasan desa wisata tembakau Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang, mengaku sekarang ini tidak berdaya karena mahalnya pita cukai. Pasalnya, pita cukai kini dijual per gram dan disesuaikan jumlah pesanan (kuota).  Mereka khawatir, lambat-laut usaha mereka akan kian terpuruk.

"Penjualan pita cukai sekarang melalui Kantor Bea Cukai, menggunakan sistem kuota. Sehingga, sangat menyulitkan bagi pengolah tembakau berkapasitas kecil," ujar Tisna seorang perajin kepada “SJ”.
Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak pada banyaknya pengusaha tembakau olahan (kemasan) yang gulung tikar. Bahkan, kata dia, sanksi tegas berupa denda uang ratusan hingga miliaran rupiah, tentu saja membuat pengusaha tembakau kemasan yang tidak memakai pita cukai miris dan ketakutan.
"Petani tembakau di Sukasari dan Tanjungsari berjumlah ribuan. Jumlah tersebut, termasuk diantaranya petani yang masuk kelompok tani dan yang belum bergabung. Jia dibiarkan dan tanpa ada angin segar dari pemerintah, tidak mustahil banyak yang berhenti menjadi perajin tembakau," ungkapnya.
Di sisi lain, belakangan ini, produtivitas perajin semakin terhambat  persoalan modal. Pendapatan mereka tidak seimbang dengan biaya produksi yang dikeluarkan. "Harga jual tembakau olahan terbilang murah, sekitar Rp 200 ribu per ikatnya," kata Jaja Ujis (39), seorang pengolah tembakau warga Desa/Kecamatan Sukasari .
Padahal,  mereka memperoleh daun tembakau dari wilayah lain, yakni Majalengka dan Kadipaten. Dibelinya pun mahal, rata-rata Rp 800 ribu per kuintalnya.

Mestinya, kata dia, di Sukasari petani setempat banyak yang menanam tembakau karena sudah menjadi kawasan agrowisata. Kenyataannya, warga Sukasari tak banyak yang menanam tembakau sehingga perajin harus mencarinya hingga ke Majalengka dan Kadipaten atau kawasan Sumedang lainnya. (SJ-2)***
0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2014. News Plest - All Rights Reserved
Info Berita dan Iklan Hubungi 08974431696 PIN BB 32D3418F
Proudly powered by Blogger